konservasi terumbu karang
KONSERVASI TERUMBU KARANG
“Kerusakan Terumbu Karang Oleh Aktivitas Manusia Secara Tidak Langsung”
Oleh :
Kurniawan
08101005002
Dosen Pengampu : Yulianto Suteja, M.Si
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2013
Ekosistem Terumbu
Karang
Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang
sangat terancam didunia. Sebanding dengan hutan hujan dalam keanekaragaman
hayatinya dan merupakan sumber keuntungan ekonomi yang besar dari perikanan dan
pariwisata, ekosistem terumbu karang adalah salah satu kepentingan dunia.
Selain itu, karang memegang fungsi penting di negara-negara berkembang,
khususnya di Negara-negara
kepulauan berkembang. Hingga saat ini, tekanan yang
disebabkan oleh kegiatan manusia-seperti pencemaran dari daratan dan praktek
perikanan yang merusak telah dianggap sebagai bahaya utama untuk terumbu
karang.
Kerusakan Ekosistem
Terumbu Karang
Secara umum penyebab kerusakan
terhadap terumbu karang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kerusakan yang
disebabkan oleh kegiatan manusia (anthropogenic causes) dan permasalahan
yang disebabkan oleh alam (natural causes).
Ø Kerusakan
Akibat Manusia
Apabila
dikelompokkan dari berbagi kegiatan manusia yang berakibat pada kerusakan ekosistem terumbu karang baik secara langsung
maupun tidak langsung , yaitu :
1. Penambangan
dan pengambilan karang
Penambangan dan pengambilan karang
merupakan kegiatan merusak terumbu karang yang banyak dilakukan oleh masyarakat
pesisir pada umumnya. Penyebab utama penambangan karang adalah tidak
tersedianya bahan bangunan, terutama batu pada suatu daerah, sehingga
alternatif termudah adalah mengambil dari terumbu karang. Jenis yang umum
diambil adalah karang batu (stony coral; Porites
spp) dan tidak jarang karang yang diambil tersebut masih hidup. Karang yang
diambil dipergunakan untuk membuat bangunan/rumah, jalan, lapangan bola,
(banyak kasus di Maluku, Kalimantan Timur). Di Sulawesi Selatan, ribuan meter
kubik karang batu dan sebagian besar merupakan karang hidup dipakai untuk
membuat tanggul-tanggul tambak yang diambil dari terumbu karang pada bagian
depan tambak. Di Lombok (Mataram), karang yang ditambang digunakan sebagai
bahan baku dalam pembuatan kapur. Pada daerah-daerah yang tidak memiliki bahan
galian seperti batu yang dapat dipakai dalam pembuatan bangunan atau untuk
memperoleh bahan-bahan bangunan tersebut sangat jauh, maka penambangan karang
merupakan alternatif yang terbaik dan termudah yang dapat dilakukan, walaupun
banyak sekali masyarakat yang sadar bahwa kegiatan mereka dapat merusak
ekosistim terumbu karang.
2. Penangkapan
Ikan dengan Alat dan bahan yang Merusak
Kasus kerusakan terumbu
karang akibat dari penangkapan ikan dengan menggunakan alat dan bahan yang
merusak banyak terjadi di hampir periaran Indonesia. Kegiatan tersebut antara
lain : penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, muroami, bubu,
jangkar, tokang dan aktivitas penancangan tiang budidaya rumput laut.
Pada umumnya kegiatan
pengeboman dilakukan di tempat-tempat yang ikannya relatif banyak, seperti di
taket-taket (patch reef) yaitu suatu
tempat dimana terdapat banyak terumbu karang. Ledakan yang ditimbulkan oleh
pengeboman inilah yang menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem terumbu
karang. Penangkapan ikan dengan menggunakan jaring muroami biasanya dilakukan
di perairan kawasan Barat Indonesia. Jaring Muroami merupakan suatu teknik
penangkapan ikan yang dilakukan secara berkelompok (melibatkan 30-35 orang)
dengan menggunakan jaring khusus yang disebut muroami, biasanya menggunakan
perahu sebanyak tiga buah. Kasus pemasangan bubu banyak terjadi Kawasan
Indonesai bagian Timur terutama di P. Ambon dan Pulau-pulau sekitarnya. Di
daerah tersebut bubu yang terbuat dari Bambu, biasanya dipasang di tubir pada
tempat-tempat yang diduga sebagai jalur lalu lintasnya ikan. Pada alat tangkap
bubu diikatkan seutas tali ke darat, kemudian bubu ditarik ke darat pada saat
tertentu (2-3 hari setelah dipasang).
Peristiwa rusaknya
ekosistem terumbu karang pada aktivitas ini adalah pada saat penarikan bubu ke
darat. Pada saat penarikan tersebut biasanya turut tersarut pula karang-karang
hidup. Ada pula
bubu yang dipasang, dimana pada bagian atasnya ditutupi oleh patahan karang
hidup (Acropora table), sehingga bubu tidak tampak. Jika ada banyak bubu
semacam ini dipasang, maka dapat dibayangkan betapa besar kerusakan yang
diderita karang hidup.
3. Pencemaran
dan sedimentasi
Tingkat pencemaran di
beberapa kawasan pesisir dan lautan Indonesia pada saat ini telah berada pada
kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai kegiataan industri yang tumbuh
seiring dengan pertumbuhan ekonomi pada masa orde baru banyak memberikan
potensi dampak negatif berupa pencemaran dan sedimentasi baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat menurunkan kualitas dan kuantitas lingkungan.
Ekosistem terumbu karang yang merupakan ekosistem utama di kawasan pesisir dan
lautan mempunyai potensi yang sangat besar untuk terkena dampak tersebut.
Banyak kegiatan-kegiatan industri yang berpotensi menimbulkan pencemaran, antara
lain : buangan minyak (sumur-sumur minyak, tanker, dan kapal lainnya), buangan
yang berasal dari industri, buangan rumah tangga.
Aktivitas di laut yang mengancam terumbu karang
antara lain pencemaran dari pelabuhan, tumpahan minyak, pembuangan bangkai kapal,
pembuangan sampah dari atas kapal, dan akibat langsung dari pelemparan jangkar
kapal.
Sedimentasi dan Pencemaran Darat Penebangan hutan,
perubahan tata guna lahan, dan praktek pertanian yang buruk, semuanya
menyebabkan peningkatan sedimentasi dan masuknya unsur hara ke daerah tangkapan
air. Sedimen dalam kolom air dapat sangat mempengaruhi pertumbuhan karang, atau
bahkan menyebabkan kematian karang. Kandungan unsur hara yang tinggi dari
aliran sungai dapat merangsang pertumbuhan alga yang beracun.
4. Pembangunan
Pantai/Pesisir
Perencanaan pembangunan
kawasan pesisir yang tidak tepat dan tidak adanya tata ruang yang baik di
wilayah pesisir mempunyai dampak sangat serius terhadap lingkungan sekitarnya.
Seperti halnya juga kegiatan industri, kegiatan pembangunan pantai juga
berkontribusi terhadap kerusakan terumbu karang, seperti pembangunan
pelabuhan/dermaga; penyediaan fasilitas wisata seperti pontoon; pembangunan
pemukiman di wilayah pantai; beragam penambangan seperti pasir, coral, dan
sebagainya; pembangunan pelabuhan udara dan pangkalan militer, pembangunan
kota-kota pantai seperti reklamasi. Macam dampak yang ditimbulkan berupa
sedimentasi, pencemaran bahan-bahan kimia, sampah penduduk, dan sebagainya.
Dampak inilah yang kemudian terbawa ke laut dan menyebabkan terjadinya
kerusakan ekosistem terumbu karang.
5. Pembangunan
di Darat Selain pembangunan pantai
Pembangunan di darat
secara tidak langsung memberikan kontribusi sebagai penyebab kerusakan terumbu
karang. Kegiatan pembangunan di darat tersebut diantaranya konversi lahan,
pembabatan hutan, pengkonversian fungsi hutan untuk kegunaan lainnya, dan
pemukiman. Dampak yang ditimbulkan berupa erosi dan sedimentasi (bahan organik
dan an-organik) yang dibawa melalui arus sungai yang pada akhirnya bermuara di
laut dan dampak ini pulalah yang juga menyebabkan terjadinya kerusakan kosistem
yang berasosiasi dengan lautan, termasuk di dalamnya terumbu karang.
6. Aktivitas
Kegiatan Industri di Lepas Pantai
Berbagai aktivitas
industri yang terdapat di lepas pantai juga banyak berdampak bagi kerusakan
ekosistem terumbu karang Indonesia. Berbagai kegiatan tersebut antara lain: 1.
Penambangan MIGAS lepas pantai, dimana dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan
ini adalah: kerusakan secara fisik, sedimentasi, dan pencemaran bahan-bahan
kimia. 2. Penambangan Pasir, dimana dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan ini
adalah sedimentasi. 3. Kecelakaan tumpahan minyak, dimana dampak yang
ditimbulkannya adalah sedimentasi dan pencemaran bahan-bahan kimia. 4.
Penggalangan kapal, dimana dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan ini adalah
kerusakan secara fisik. 5. Pembuangan limbah padat, dimana dampak yang
ditimbulkan oleh kegiatan ini adalah pencemaran bahan kimia.
7.
Permintaan jenis ikan
hias/ karang meningkat dan Eksploitasi
Faktor penyebab
meningkatnya eksploitasi sumberdaya ikan hias/karang salah satunya adalah
karena adanya permintaan jenis-jenis ikan tertentu, baik di pasaran dalam
negeri maupun di pasaran dunia, yang cenderung meningkat, seperti contoh
permintaan ikan maming/kerapu hidup yang tinggi di pasaran (Hongkong),
permintaan ikan Napoleon Wrase di
pasaran internasional. Kecenderungan berakibat pada penangkapan berlebih
(over-eksploitasi).
Penangkapan ikan secara berlebihan memberikan
dampak perubahan pada ukuran, tingkat
kelimpahan, dan komposisi jenis ikan. Hal itu disebabkan ikan turut berperan di
dalam mencapai keseimbangan yang harmonis di dalam ekosistem terumbu karang.
Penangkapan besar-besaran akan menyebabkan terumbu karang menjadi rapuh
terhadap gangguan dari alam maupun gangguan dari kegiatan manusia. Penangkapan ikan dengan
menggunakan racun dan pengeboman ikan merupakan praktek yang umum dilakukan,
yang memberikan dampak sangat negatif bagi terumbu karang. Penangkapan ikan
dengan racun akan melepaskan racun sianida ke daerah terumbu karang, yang
kemudian akan membunuh atau membius ikan-ikan. Karang yang terpapar sianida
berulang kali akan mengalami pemutihan dan kematian. Pengeboman ikan dengan
dinamit atau dengan racikan bom lainnya, akan dapat menghancurkan struktur
terumbu karang, dan membunuh banyak sekali ikan yang ada di sekelilingnya.
Ø Kerusakan Akibat Alam
Selain secara fisik,
kerusakan ekosistem terumbu karang juga dapat digolongkan sebagai kerusakan
akibat oleh proses-proses alam. Kerusakan biologi/alami dapat berupa
kerusakan yang disebabkan oleh hewan predator atau karena benar-benar merupakan
keajaiban alam seperti bencana El-Nino, Pemanasan Global (global warming),
La-Nina, Topan (storm), gempa (earth quake) dan banjir (floods).
Secara umum, kerusakan biologis/alami ekosistem terumbu adalah sebagai berikut
: Torn of CrownSea Star
(Acanthaster Plancii).
Bintang laut berduri
merupakan hewan pemangsa karang yang cukup ganas. Beberapa ratus ekor bintang
laut ini dapat mematikan berhektar-hektar terumbu karang dalam kurun waktu yang
cepat. Di perairan Maluku, hewan ini biasanya blooming (dalam kepadatan yang sangat
tinggi : 25-50 ekor/m2) setelah musim hujan. Penyebab bloomingdari hewan ini belum
diketahui dengan jelas. Kerusakan terumbu yang disebabkan hewan ini perlu
mendapat perhatian yang serius pada program Coremap, dengan melakukan
pemantauan jumlah, terutama pada masa-masa blooming.
Isu mengenai global warming yang banyak dibicarakan, berdampak
besar pada terumbu karang. Peningkatan suhu permukaan laut telah menyebabkan
pemutihan karang (bleaching) yang lebih parah dan lebih sering.
Peristiwa-peristiwa alam seperti El Nino dan Tsunami juga menyebabkan kerusakan
yang serius terhadap kelangsungan hidup terumbu karang.
Di
jelaskan pula oleh Burke et al ., (2002) dalam Sudiono
G., (2008) bahwa
terdapat beberapa penyebab kerusakan terumbu karang yaitu:
(1)
Pembangunan di wilayah pesisir yang tidak dikelola dengan baik;
(2)
Aktivitas di laut antara lain dari kapal dan pelabuhan termasuk akibat langsung
dari pelemparan jangkar kapal;
(3) Penebangan hutan dan perubahan
tata guna lahan yang menyebabkan peningkatan sedimentasi;
(4)
Penangkapan ikan secara berlebihan memberikan dampak terhadap keseimbangan yang
harmonis di dalam ekosistem terumbu karang;
(5) Penangkapan ikan dengan
menggunakan racun dan bom; dan
(6) Perubahan iklim global.
ü Tindakan Pengelolaan Terumbu Karang
Tekanan
perubahan iklim terhadap terumbu karang mengancam keberlanjutan ketersediaan
pangan dan akan memaksa masyarakat di daerah pesisir berpindah karena
kehilangan sumber makanan dan sumber pendapatan. Studi yang dilakukan World
Wildlife Fund (WWF) Internasional juga menyebutkan bahwa jika dunia tidak
mengambil tindakan efektif untuk menekan dampak perubahan iklim maka kawasan
terumbu karang di Segitiga Karang (Coral Triangle) akan hilang pada akhir abad
ini. Hal itu membuat kemampuan daerah pesisir untuk menghidupi populasi di
daerah sekitarnya akan berkurang 80 persen. Direktur Jenderal WWF Internasional
James Leape mengatakan, hal itu bisa terjadi karena keberadaan terumbu karang
sangat memengaruhi kelangsungan ekosistem laut, termasuk kehidupan sumber daya
hayati di dalamnya. Segitiga Karang yang meliputi kawasan Indonesia, Filipina,
Malaysia, Papua Niugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste mencakup 30 persen
dari terumbu karang di dunia dan 76 persen dari spesies karang yang
membentuknya merupakan tempat bertelur jenis ikan strategis, seperti ikan tuna.
Pemulihan
terumbu karang beragam macamnya mulai dari terumbu karang yang satu ke yang
lain sesuai dengan keunikan setiap lokasi. Westmacott S, et
al.,(2000) dalam bukunya menyarankan tindakan pengelolaan terumbu
karang dengan melihat kondisi yang optimal dan pengelolaan yang hati-hati dapat
membantu, dengan mengurangi dampak negatif dengan memperbaiki keadaan bagi
pemulihan. Pemulihan hanya terjadi bila tekanan tambahan akibat kegiatan
manusia dibatasi. Kondisi yang optimal untuk pemulihan ekosistem terumbu karang
secara maksimal meliputi:
ü Permukaan dasaran yang padat, bebas
alga dimana larva karang dapat menempel dan tumbuh; bilamana karang mati selama
pemutihan, batu yang mereka tinggalkan menjadi substrat yang potensial untuk
peremajaan.
ü Daerah bebas penangkapan ikan yang
berlebihan, sedimentasi, polusi, pupuk, limbah tak diolah dan bahanbahan lain
yang dapat mengurangi pertumbuhan dan mempengaruhi kelangsungan peremajaan
karang; kualitas air yang baik dan pengurangan dampak fisik yang mampu
menunjang pertumbuhan dan peremajaan karang.
ü Keberadaan karang dewasa yang matang
secara seksual didaerah tersebut sebagai penyedia larva baru, kemampuan terumbu
karang yang tak terganggu, jauh dari terumbu karang yang rusak, untuk
menyediakan larva akan bergantung dari arus laut yang sesuai dan kesehatan
terumbu karang induk. Karang lokal yang tersisa dapat pula menjadi sumber larva
di daerah tersebut.
ü Perlindungan dari penangkapan ikan
yang berlebihan untuk mempertahankan populasi ikan yang sehat, ikan herbivora
akan memakan alga dan menjaga karang yang mati sebagai substrat bagi kolonisasi
karang.
Kondisi-kondisi ini dapat
dimaksimalkan dengan pengelolaan yang terencana dengan baik. Lebih lagi berbicara tentang strategi
pelestarian terumbu karang dalam konteks Daerah Perlindungan Laut, perikanan,
pariwisata dan Pengelolaan Pesisir Terpadu.
Referensi :
Komentar
Posting Komentar